Harimanado.com,Manado- Rasa bahagia Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Sulawesi Utara (Sulut) Ir H Djafar Alkatiri MM MPdI sulit dilukiskan.
Dalam sambutan singkat di silaturahmi dan buka puasa bersama para tokoh dan masyarakat, Djafar mengungkapkan buka puasa kali ini agak berbeda dari sebelumnya.
Dia mengundang sekira 100 anak yatim dari panti asuhan.
“Saya juga mengundang anak anak yatim piatu bersama sama dengan kita. Karena buka puasa bersama anak yatim, kita merasakan kebahagiaanyang berbeda,”ucap Djafar saat sambutan di acara yang digelar di kediamannya di vila Simphony, Kelurahan Sumompo, Kamis sore (12/03/2026).
Kata mantan senator DPD RI 2019-2024, di bulan suci Ramadan menjadi momentum perkuat silaturahmi karena bulan Ramadan keberkahan dan kemuliaan yang tinggi bagi umat Muslim. Apalagi dihadiri anak anak yatim piatu.
Djafar juga menyampaikan rasa syukur serta ucapan terima kasih kepada undangan yang telah meluangkan waktu untuk hadir.
“Alhamdulillah, kita bisa berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan di bulan suci Ramadhan. Kami sangat bersyukur dapat bersilaturahmi dan berbuka puasa bersama anak-anak panti asuhan serta para sahabat dan tokoh masyarakat yang hadir,”tutur Komisaris Independen PT Bank Sulutgo ini.
Banyak tokoh yang hadir. Selain pengurus IPHI Sulut, tampak tokoh agama seperti Kakanwil Kementerian Agama Sulut Dr H Ulyas Taha MPd, Kakanwil Kementerian Haji Umrah Wahyudin Ukoli, Ketua Dewan Syuro PW NU Sulut KH Syaban Mauludin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sulut KH Abdul Wahab Abdul Gafur, Ketua PHBI Sulut H Syahrul Poli, Ketua Majelis Ulama Indonesia Manado KH Yasser bin Bachmid, Ketua Korwil Alkhairat Sulut Habib Ad Mulachele dan istrinya Fatma bin Syech. Ketua Kahmi Sulut Dr Abdurrahman Konoras, Ketua Juleha Sulut Dr Kalo Tahirun.
Para politisi dan aktivis muslim seperti Anggota DPRD dan Sekretaris PG Sulut Razky Mokodompit, Staf Khusus Gubernur Sulut juga Sekretaris PPP Sulut Mazhabullah Ali, mantan direktur BSG Hamdi Paputungan, mantan Kakanwil Agama Sulut Dr Abd Rasyid, Kadis Naker Manado Fadly Kasim, Camat Bunaken Darat Herry Anwar, Camat Singkil Junaidi Mamonto, Ketua BKPRMI Sulut Suyanto Muarif, budayawan Sulut Reiner Ointoe, pengurus KKIG Sulut Masri Soleman, Muardi Rahmola, Ketua MUI Tomohon dr Abeng Elong, mantan Rektor IAIN Dr Rukmina Gonibala majelis ta’lim SMAI, Hijabers Kawanua, Al Muhabbah Manado, pimpinan WSI Sulut dan puluhan aktivis Muslim lainnya.
Djafar menyentil soal ibadah haji umroh. Bertepatan Djafar pergi ke tanah suci Mekkah saat perang Israel AS lawan Iran. DIa mengaku biaya umroh saat Ramadhan melonjak tinggi.
“Umat muslim yang ibadah umroh saat Ramadhan belasan juta jiwa. Jauh di atas ibadah haji yang rata rata 7 jutaan,”katanya.
Usai sambutan, Ketua NU Sulut Hi Ulyas Taha mengisahkan sejarah bersama Djafar. Kata Taha, Djafar dan dirinya berada di satu generasi. Telah aktif di saat mahasiswa. Ulyas IKIP Manado, Djafar Pertanian Unsrat.
Djafar pernah mengajak Ulyas erjun di rimba politik di PPP. Hanya saja tawarannya ditolak
“Saat masih mahasiswa pak Djafar sudah terjun ke dunia politik. Sempat ajak saya untuk terjun di partai politik,”sentilnya.
Acara dilanjutkan tausyah kultum dari Ustadz Yasser bin Bachmid. Ketua MUI Manado itu mengupas kemuliaan ibadah puasa Ramadhan. Ada malam istimewa yang disebut Lailatul Qadar. Semua yang berpuasa berharap menemukan malam itu, sesuai yang disentil Al Quran malam turunnya wahyu Al Quran.
Kiai Yasser mengupas sedikit keistimewaan yang berpuasa kelak di hari pembalasan, Allah akan siapkan satu pintu namanya babu Rayyan.
“Pintu khusus Rayyan khusus mereka yang rajn puasa,”katanya.
Menurut Kiai Yasser badah puasa harus banyak diisi kegiatan ibadah. Jangan kemudian lebih banyak tidurnya. Meski di hadits disebut tidurnya orang puasa di Ramadhan itu ibadah.
“Jangan usai Sholat Subuh tidur. Nanti bangun sore jelang buka puasa,”ucapnya.
Setelah tausiah, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa. Suasana semakin hangat ketika Djafar Alkatiri mengundang anak panti di depan panggung untuk serahkan santunan. Semua terdiam haru menyaksikan momen paling menyentuh dalam acara itu.
Saat serahkan santunan nada suara Djafar menahan gejolak batin saat mengusap kepala para anak. Penyerahan santunan dilakukan secara simbolis kepada beberapa perwakilan anak panti asuhan. Ulyas Taha dan Sachrul Poli ikut menemani.
“Bantuan yang diberikan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka, terutama selama bulan Ramadan,” ujar Alkatiri. Djafar Alkatiri menyampaikan bahwa kegiatan berbagi seperti ini merupakan bagian dari nilai-nilai yang selalu dijunjung tinggi oleh IPHI, yakni memperkuat ukhuwah dan membantu sesama.
Menurutnya, Ramadan adalah momentum yang tepat untuk menumbuhkan rasa empati serta memperbanyak amal kebaikan. Ia juga berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya. Wujud Kepedulian Sosial IPHI IPHI Sulut menegaskan perannya tidak hanya sebagai wadah silaturahmi bagi para haji, tetapi juga sebagai organisasi yang aktif dalam kegiatan sosial.
“Buka puasa bersama dengan anak panti asuhan menjadi salah satu agenda yang memiliki makna mendalam karena melibatkan langsung kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian,” ungkapnya.
Komisaris Bank SulutGo (BSG) ini juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai wujud kepedulian sosial serta semangat berbagi kepada sesama, khususnya kepada mereka yang membutuhkan.
IPHI Sulut ke depan, dapat dilakukan secara lebih luas dengan melibatkan lebih banyak pihak. Melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten, diharapkan semangat kepedulian sosial dapat terus tumbuh dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Momentum buka puasa bersama menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kepedulian dapat menciptakan kebahagiaan bagi banyak orang, khususnya bagi mereka yang membutuhkan perhatian dan dukungan.(ham)















