Hadirkan Peneliti SMRC, Puanacitya Diksusi Demokrasi Indonesia Pasca Pilpres

SERIUS : Diksusi saat digelar disalah satu rumah kopi dibilangan jalan Piere Tendean, kemarin.

MANADO–PUANACITYA yang merupakan sekolah Alternatif Perempuan Sulut, menggelar diskusi yang mengangkat tema “membincang demokrasi Indonesia Pasca Pilpres 2019”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di gudang Imaji Coffee, Jumat (6/9) kemarin.

Bacaan Lainnya

Tak tanggung-tanggung diksusi tersebur menghadirkan pembicara Saidiman Ahmad Peneliti di Saiful Mujani reaserch & consulting (SMRC), dan dipandu moderator Ananda lamadau, mahasiswa pasca sarjana UNAS jakarta.

Saidiman mengataka, banyak orang menilai demokrasi Indonesia menurun karena memburuknya kebebasan sipil atau civil liberties beberapa tahun belakangan. Tak hanya itu, kata dia, persekusi pada kelompok minoritas menjadi isu utama yang menyebabkan skor demokrasi Indonesia menurun.

“Untuk aspek political rights, Indonesia masih cukup oke. Dunia internasional dan publik menilai penyelenggaraan Pemilu berjalan jujur dan adil. Memang ada persoalan pada politik identitas. Sejak 2014, isu identitas masuk ke dalam materi kampanye para kandidat dan tim sukses,”ujarnya.

Lanjutnya, namun demikian, sebenarnya ditingkat masyarakat pemilih, politik identitas tidak terlalu berpengaruh. Buktinya partai-partai agama tidak pernah mendapatkan suara mayoritas sejak Pemilu 1999. Pada Pilpres 2014 dan 2019, Jokowi mendapatkan serangan paling besar dalam kampanye SARA. Tetapi dalam dua kali Pilpres, dia mendapatkan dukungan pemilih secara meyakinkan. “Menurut exit poll SMRC, yang percaya pada isu SARA yang dipakai untuk menyerang Jokowi juga tidak banyak. Artinya sebenarnya publik tidak terbeli dengan kampanye politik identitas,”ungkapnya.

Lebih lanjut Saidiman mengungkapkan, penggunaan sentimen identitas dalam kampanye akan tetap marak bukan karena publik menginginkannya, melainkan karena rendahnya kualitas para calon. Tidak banyak calon yang memiliki platform dan rekam jejak yang baik untuk ditawarkan. Di daerah dimana muncul calon dengan platform dan rekam jejak yang baik, para kandidat itu dengan sangat meyakinkan memperoleh dukungan publik. Artinya, pada dasarnya publik Indonesia rasional.

“Masalahnya seringkali supply kandidat yang baik tidak banyak.
Kenapa ini terjadi? Itu karena lembaga yang memproduksi para kandidat itu masih memakai pola lama. Lembaga itu adalah partai politik. Parpol dikuasai oligarki dan dinasti keluarga. Ini paradoks. Di satu sisi publik semakin rasional, tapi partai politik masih pakai sistem kerajaan” tegas Saidiman.

Sebelum diskusi ditutup, Milla Ukoli, salah satu penggagas Puanacitya menyampaikan kegiatan diskusi semacam ini akan terus dilaksanakan, sebagai salah satu upaya untuk terus merawat tradisi berpengetahuan di anak muda terutama perempuan di Manado dan Sulawesi Utara pada umumnya.

“Kita akan buat rutin diskusi seperti ini. Agar pemahaman dan pengetahuan perempuan Kota Manado dapat terus dikembangkan. Nanti akan didiskusikan kembali tema apa yang akan diangkat pada diskusi lanjutan,”tandasnya.(tr13)

Pos terkait