Alumni Harapkan Unima Lebih Maju, Prof Dei Dilantik Pekan Ini?

HARMONI: Rektor Unima Prof Dr Julyeta PA Runtuwene MS (gunakan kemeja batik) didampingi Rektor terpilih Prof Dr Deitje A Katuuk MPd (kemeja putih), ketika memberikan keterangan pasca pemilihan lalu.

Harimanado.com, MANADO – Desas desus kembali menghantui Universitas Negeri Manado (Unima). Pasalnya, hasil pemilihan rektor kemarin, kembali disoal.

Kabar berhembus pelantikan rektor terpilih Prof Dr Deitje A Katuuk MPd akan ditunda, bahkan dibatalkan. Padahal masa jabatan Rektor Unima Prof Dr Julyeta PA Runtuwene MS, tinggal menghitung hari akan berakhir. Untuk itu, top leader di kampus yang terletak di puncak gunung Tousaru ini harus segera diisi. Jika tidak bisa kekosongan, dan atau digantikan Pelaksana Harian (Plh).

Bacaan Lainnya

Salah satu alumni Unima, Dr Semuel Topayung mengatakan bahwa sudah waktunya internal Unima, khususnya senat bersinergi dan berkolaborasi membangun Unima lebih baik dan lebih maju ke depan.

“Kalau mempersoalkan hasil pemilihan kemarin. Saya pikir itu tendesius. Artinya, prosesnya sudah berjalan dan sudah ada hasil. Kalau ada problem dalam syarat administrasi pencalonan. Mengapa tidak dari awal disoal,” kata Semuel, kemarin.

Namun demikian, dirinya menilai sesuatu hal biasa jika memang ada keberatan dari pihak tertentu mengenail hasil suatu kontestasi. Namun harus dipandang secara obyektif dan bijaksana. “Kalau mau gugurkan hasil. Saya pikir itu tidak tepat. Kalau soal dugaan keabsahan ijasah doktor rektor terpilih, itu ‘kamar’ lain. Harus dibedakan room_nya,” jelas pria yang sekarang aktif di Jakarta.

Dia menegaskan, upaya mengugurkan hasil pemilihan tidak berdasar. Untuk itu, lanjut Semuel, idealnya semua pihak mapalus dan bersinergi membangun Unima ke depan. “Kami alumni yang bertebaran di seantero negeri wilayah Indonesia. Tentunya, mengharapkan Unima terus maju,” tutur Topayung, yang juga Ketum Lembaga Pendamping Pembangunan Nasional (LPPN).

Demikian halnya juga dikatakan Dr Muni Ika, salah satu alumni Unima. Dirinya mengharapkan Unima ke depan lebih maju lagi.

“Unima harus memperkuat kelembagaannya. Untuk bisa lebih maju ke depan,” pungkas Muni Ika di Jakarta, Minggu (30/8) malam, yang juga saat ini bekerja di Kemendibud RI.

Namun demikian, dirinya berpikir positif jika ada dinamika setelah kontestasi. “Dinamika dalam proses kontestasi itu biasa. Demikian halnya setelah ada hasil. Namun, jika sudah ada rektor terlantik nanti. Semua bisa melebur dan berkolabarasi menjadi satu kekuatan untuk Unima tercinta,” harap Muni Ika.

Di lain waktu, informasi dari Dosen Unima, Prof Dei sapaan akrab rektor terpilih tetap akan dilantik. “Ini sudah pertarungan di luar kampus Unima. Namun posisi Prof Dei di Jakarta cukup kuat. Jadi, berat untuk bisa digagalkan hasil pemilihan kemarin,” tutur sumber tersebut yang meminta namanya tidak dikorankan.

Sumber lain juga mengatakan, Prof Dei didukung penuh pihak Pemerintah Pusat. Menurutnya, bukti dukungan pusat Prof Dei disinyalir kuat kantongi full suara Mendikbud Nadiem Makarim di pemilihan lalu.

“Dukungan Jakarta kuat ke Prof Dei. Bahkan, Prof Dei didukung juga oleh Komisi X DPR-RI sebagai mitra kerja Mendikbud. Jadi, ngga usalah habiskan energi. Fokus bangun kampus Unima. Prof Dei jika tak ada aral melintang dilantik pekan ini,” pungkas sumber tersebut.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor Unima Prof Dr Ruddy Pakasi MPd membenarkan bahwa masih ada pihak yang keberatan dengan hasil pemilihan kemarin. Dugaannya, soal salah satu syarat adminitrasi dari rektor terpilih Prof Deitje A Katuuk.

“Iya sepertinya begitu. Yang jelasnya, panitia sampai saat ini belum menerima pemberitahuan dari kementerian tentang kapan pelaksanaan pelantikan,” kata Prof Ruddy, Minggu (30/8) malam.

Ketika disentil, persoalan ini bukan lagi wewenang panitia di level universitas. Artinya, ini sudah domain penuh Kemendikbud. Prof Ruddy tidak menepis hal tersebut. “Tapi inspektorat dapat meminta keterangan lagi ke panitia. Jadi panitia belum sepenuhnya mengundurkan diri, tapi harus siap mempetanggung jawabkan apa yang sudah dilakukannya,” jelas Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) ini seraya menuturkan pihaknya tetap wait and see. (but)

Pos terkait