
Harimanado.com, BOLTIM–Dinamika politik di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, tak kalah menarik diperbincangkan. Pasalnya, kurang dari beberapa bulan pemilihan Kepala Daerah atau Bupati dan Wakil Bupati 2020 pesta demokrasi lima tahunan itu akan dihelat di Bolmong bagian timur tersebut. Sejumlah nama sudah mulai digadang-gadang. Mulai dari kalangan politisi, birokrasi hingga pengusaha diprediksi bakal meramaikan bursa calon orang nomor satu di Boltim itu.
Sebut saja Nursiwin Dunggio yang diketahui merupakan istri Bupati Boltim Sehan Landjar. Kemudian ada nama Robbi Mamanto birokrat yang kini menduduki kepala SKPD. Lalu Muhammad Assagaf yang kini menjabat Sekda juga disebut-sebut salah satu calon yang mumpuni. Selain itu latar belakang Parpol ada Sam Sachrul Mamonto, Medy Lensun. Wakil Bupati aktif Rusdi Gumalangit juga diendus bakal bertarung naik tahta.
Dikatakan Ketua DPC PAN Boltim Marsole Mamonto, jadi memang sampai hari ini Partai Amanat Nasional (PAN), belum menentukan sikap. Kata dia, artinya dari segi kader memang sudah siap, akan tetapi ini masih menunggu rapat internal dan hasil rakernas. “Tentunya strategi yang nantinya akan direkrut dari salah satu calon dari partai Amanat Nasional (PAN), dari partai sendiri dan birokrat. Jadi PAN tidak hanya melirik dari kader akan tetapi disitu sudah ada AD/ART siapa saja yang bisa diusung,”umbarnya.
Lanjutnya, dan pada intinya PAN sendiri merupakan partai utuh, siap mencalonkan baik itu Bupati dan Wakil Bupati yang memenuhi syarat. “Akan tetapi, di partai sendiri tidak menentukan kepada kita, tapi juga bisa memberi ruang kepada birokrat dan politisi,”ungkapnya.
Sementara itu, Ketua DPC Medy Lensun mengatakan, saat ini PDIP suara kedua terbanyak setelah Partai Amanat Nasional (PAN), untuk itu perihal Pilkada 2020 mendatang PDIP belum berkonsentrasi disitu. Tapi walaupun PDIP sebagai pemenang ke dua siap bertarung di 2020. “Sedangkan PDIP perjuangan punya banyak Kader baik internal dan eksternal, kalau di internal ada saya sendiri sebagai ketua DPC dan Pak Rocky Wowor. Ada juga beberapa tokoh-tokoh baik itu dari birokrat politisi dan pengusaha dan akan dilihat dari elektabilitasnya,”katanya.
Pengamat Politik Sulut Ferry Liando menambahkan, untuk memprediksi peta kekuatan Pilkada 2020 apalagi membahas figur yang paling potensial, satunya rujukan yang bisa dibaca pada hasil pemilu 2019 adalah parpol-parpol mana yang bisa mengusung calon kepala daerah dan wakil. UU nomor 10 tahun 2016 tentang Pilkada menyebutkan syarat parpol yang bisa mengsung adalah parpol yg memperoleh 20 persen kursi dari jumlah total DPRD atau 25 persen suara hasil pemilu.
“Jika angka itu tak terpenuhi maka suatu parpol dapat bergabung dengan parpol lain untuk mencukupi syarat itu. Namun, demikian untuk membaca kekuatan masing-masing parpol masih amat sulit untuk berspekulasi. Alasannya, parpol yang memiliki suara dan kursi terbanyak hasil pemilu tidak bisa seolah-olah dideklarasikan sebagai pemenang Pilkada nantinya,”ungkap Liando.
Lanjut dosen pascasarjana itu, cara membaca kekuatan masing-masing parpol di Pilkada adalah siapa figur yang diusung sebagai calon, calon siapa berpasangan dengan siapa. Sulut itu punya latar belakang etnik, suku dan agama sangat variatif, sehingga sangat berbahaya jika satu parpol tidak membangun pasangan calon kepala daerah dan wakil hanya dalam satu variatif,”bebernya.
Ia menambahkan, kemungkinan pasangan calon yang bisa mendominasi jika terjadi perkawinan dua variatif. Misalnya Minahasa-Nusa Utara, atau Minahasa-Bolmong, atau Kristen-muslim, atau Protestan-Katolik/Pantkosta atau penggabungan Variasi lain.
“Pak Olly dan Pak Steven walaupun masih dalam satu parpol namun keduanya merupakan kombinasi Tonsea-Tondano-Tountemboan. Sama halnya dengan Pak Vicky dan Pak Mor yang merupakan kombinasi GMIM dan GPdI. Sehingga membaca peta kekuatan parpol akan mudah terbaca ketika pasangan calon walikota dan walikota sudah ditetapkan KPUD,”tandasnya. (tr-20/fjr)









